Mesin Pencari Informasi

Tampilkan postingan dengan label Info News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info News. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2012

Allianz, Aviva, Axa dan Generali terancam downgrade

PARIS. Beberapa perusahaan asuransi terbesar di Eropa terancam kena downgrade dari lembaga peringkat S&P. Indikator utamanya adalah perekonomian Eropa yang terus turun akibat krisis.

Peringatan tersebut dikeluarkan S&P awal pekan ini di mana sebelumnya lembaga juga mengingatkan bahwa sebagian besar negara zona Eropa akan mengalami penurunan rating.

Allianz, Aviva, Axa, Generali dan Mapfre masuk di antara daftar 15 perusahaan asuransi yang terancamdowngrade.

S&P masih akan mengawasi peringkat utang pemerintah di Uni Eropa. "Jika tidak ada perbaikan, secara jangka panjang rating ini bisa diturunkan antara satu atau dua takik. Sedangkan dalam jangka pendek beberapa peringkat emiten asuransi berpeluang dipangkas satu takik," demikian pernyataan S&P.

Nama-nama lain yang masuk pengawasan S&P adalah Caisse Centrale de Reassurance, CNP Group, Irish Public Bodies Mutual Insurances, Millenniumbcp-Ageas Group, Nacional de Reaseguros, Pozavarovalnica Sava, RSA Insurance Ireland, Societa Cattolica di Assicurazione, Triglav Group dan Unipol Group.

Sedangkan beberapa negara yang berpeluang mendapatkan downgradeadalah Jerman, Belanda, Finlandia, Luxemburg dan Austria. Peringkat negara tersebut bisa diturunkan sebanyak satu takik.

Prancis, yang merupakan negara dengan ekonomi terbesar kedua zona euro, bisa turun hingga dua takik.

Selasa, 07 Februari 2012

Menggugah Kesadaran Asuransi Kelas Menengah

SHUTTERSTCOK.COM

KOMPAS.com — Seorang kawan lama tiba-tiba mengirim pesan singkat. Dalam pesan tersebut, ia menceritakan kondisi keuangannya yang terkuras habis karena orangtuanya sakit. Ia bahkan sampai menjual mobil. Sudah satu bulan ini ibunya tergolek di rumah sakit karena sakit. Kawan itu berharap teman-temannya bisa membantu beban keuangannya.

"Paradigma yang selama ini berkembang cenderung melihat asuransi sebagai kebutuhan terakhir yang tidak terlalu penting."

Jika saja ibunya memiliki jaminan asuransi, mungkin ceritanya akan lain. Beban ekonomi yang harus mereka tanggung untuk biaya kesehatan akan berkurang. Itu hanya satu cerita saja.

Masih ada banyak cerita lain yang mirip seperti itu. Tak jarang ada yang sampai jatuh miskin hanya karena menanggung biaya kesehatan keluarga.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 55 persen dari seluruh rakyat Indonesia belum memiliki jaminan sosial. Adapun 45 persen atau sekitar 7 6 juta orang umumnya pegawai negeri dan swasta yang sudah memiliki jaminan kesehatan masyarakat. Rinciannya, 16 juta orang memiliki Askes, 4 juta mengantongi Jamsostek, 3 juta mempunyai asurasi komersial, dan 2 juta orang anggota Jamkesda.

Mereka yang telah terlindungi asuransi ternyata juga belum lepas dari potensi masalah karena terdapatprotection gap atau kesenjangan proteksi yang signifikan.

Berdasarkan hasil studi AIA Financial yang bertajuk ”Memahami Kesenjangan Proteksi Asuransi Jiwa di Indonesia”, tercatat kesenjangan itu (selisih antara kebutuhan proteksi dan dana yang dimiliki untuk menutup proteksi tersebut) mencapai sekitar Rp 105,7 juta per orang.

Hasil survei menunjukkan, kebutuhan proteksi satu keluarga rata-rata mencapai Rp 137,21 juta, sementara dana darurat (emergency funds) yang mereka siapkan hanya Rp 31,48 juta.

AIA memperkirakan kesenjangan perlindungan untuk semua keluarga Indonesia mencapai Rp 6.128 triliun. Kesenjangan itu bakal terus bertambah karena biaya kesehatan terus naik.

Survei yang melibatkan 1.208 responden tersebut juga mengungkap fakta mengejutkan karena sekitar 60 persen responden ternyata tidak memiliki asuransi atau dana cadangan untuk proteksi diri dan keluarga.

”Dari total penghasilan mereka yang dibelikan produk asuransi hanya 10 persen, sementara tabungan dan investasi 18 persen,” kata Peter J Crewe, Presiden Direktur AIA Finansial.

Menurut dia, masyarakat Indonesia sebenarnya mampu membeli proteksi asuransi. Hal itu terlihat dengan suburnya pertumbuhan kelas menengah. Sayangnya, kesadaran asuransi mereka masih rendah. Perlu edukasi dan sosialisasi ekstra untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk peduli terhadap proteksi risiko.

Kelas menengah

Bank Dunia menyebutkan, 56,5 persen dari 237 juta populasi Indonesia masuk kategori kelas menengah. Kategori kelas menengah versi Bank Dunia adalah mereka yang membelanjakan uangnya 2 dollar AS (sekitar Rp 18.000) sampai 20 dollar AS (sekitar Rp 180.000) per hari.

Artinya, saat ini ada sekitar 134 juta warga kelas menengah di Indonesia. Disebutkan, terjadi peningkatan jumlah warga kelas menengah Indonesia sebanyak 45 juta orang dari posisi tahun 2003. Sementara dari 134 juta warga kelas menengah versi Bank Dunia itu, sekitar 14 juta orang masuk rata-rata pengeluaran 6 dollar AS (Rp 54.000) sampai 20 dollar AS per hari.

Masih menurut Bank Dunia, nilai uang yang dibelanjakan para warga kelas menengah Indonesia juga fantastis. Belanja pakaian dan alas kaki tahun 2010 mencapai Rp 113,4 triliun, belanja barang rumah tangga dan jasa Rp 194,4 triliun, belanja di luar negeri Rp 59 triliun, serta biaya transportasi Rp 238,6 triliun. Artinya dari sisi finansial sebenarnya mereka memiliki kemampuan yang cukup memadai.

Belum tergarapnya kelas menengah terlihat dari rendahnya penetrasi asuransi. Dalam lima tahun terakhir, tingkat penetrasi asuransi jiwa terhadap penduduk Indonesia bisa dikatakan stagnan di level 13-15 persen. Jumlah pemegang polis hanya berkisar 35 juta, baik individual maupun kumpulan, dibandingkan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 241 juta.

Stagnasi tersebut terjadi di tengah pertumbuhan pendapatan premi yang cukup pesat. Angka pendapatan premi asuransi jiwa nasional memang terus tumbuh signifikan dalam lima tahun terakhir, rata-rata mencapai hampir 30 persen per tahun. Hal itu merupakan masalah serius karena berarti manfaat asuransi tidak bisa menjangkau masyarakat luas dan cenderung hanya dinikmati oleh kalangan yang itu-itu saja. Berarti pula, industri asuransi gagal meningkatkan daya tahan keuangan dan kesejahteraan mayoritas keluarga di Indonesia.

Hasbullah Thabrany, profesor di Fakultas Kesehatan Publik dari Universitas Indonesia, mengatakan, rendahnya penetrasi asuransi di Indonesia karena penduduk Indonesia belum sadar risiko. Indonesia ketinggalan sekitar 50 tahun dibandingkan Malaysia.

Ia menyebutkan, peningkatan biaya perawatan di Indonesia rata-rata 7-8 persen per tahun.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nurhaida. ”Tantangan utama asuransi adalah persoalan mengubah paradigma,” katanya.

Paradigma yang selama ini berkembang cenderung melihat asuransi sebagai kebutuhan terakhir yang tidak terlalu penting. Padahal, asuransi adalah upaya melindungi diri dan keluarga dari berbagai risiko.

Risiko sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Ada lima jenis risiko yang paling sering terjadi, yakni kematian, kecelakaan, sakit, musibah pada properti (rumah dan kendaraan), dan pemutusan hubungan kerja atau kebangkrutan usaha.

Dari sisi sejarah, asuransi sebenarnya sudah cukup lama dikenal. Di Indonesia, asuransi sudah muncul sejak kolonisasi Belanda. Saat itu Belanda mengembangkan asuransi untuk melindungi sektor perkebunan dan perdagangan.

Dalam sejarah sistem keuangan, kehadiran asuransi juga lebih dulu dibandingkan dengan instrumen lain seperti reksadana. Dengan sejarah yang cukup panjang, sudah seharusnya industri asuransi mencatat prestasi yang fantastis, apalagi di tengah pertumbuhan kelas menengah yang cukup pesat. Apalagi asuransi saat ini tidak melulu sebagai alat perlindungan diri atau perlindungan harta benda semata.

Asuransi telah berkembang sedemikian jauh menjadi instrumen investasi yang diharapkan dapat menjamin tersedianya dana untuk kebutuhan masa depan .

Berbagai upaya untuk menggugah kesadaran bisa ditempuh. Misalnya saja kerja sama dengan institusi pendidikan. Pengenalan asuransi sejak dini membuat wawasan seseorang lebih terbuka. Langkah lainnya adalah pelatihan perencanaan keuangan kepada sejumlah keluarga.

Perusahaan ini secara khusus melatih ibu-ibu rumah tangga untuk mengatur keuangan keluarga. Ya, pendekatannya lebih kepada kaum perempuan. Itu bukan tanpa alasan karena perempuanlah yang selama ini lebih banyak mengatur keuangan keluarga.

Dari merekalah kesadaran berasuransi dibangun. Tidak hanya itu. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, sekitar 60 persen pelaku usaha kecil dan menengah adalah kaum perempuan. Artinya, perempuan juga menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Selain menumbuhkan kesadaran masyarakat, perusahaan asuransi juga harus melakukan evaluasi. Selama ini banyak citra negatif yang menempel ke asuransi. Sulitnya klaim dan kasus penipuan yang dilakukan sejumlah agen membuat masyarakat cenderung melihat asuransi dengan sebelah mata.

Berbagai tawaran manis diberikan kepada calon nasabah agar mereka terbujuk untuk membeli asuransi. Janji manfaat pun ditawarkan setinggi langit.

Namun, saat nasabah mengajukan klaim semuanya jadi berubah. Prosedurnya sangat berbelit karena tidak transparannya proses pemasaran asuransi sejak awal. (ENY PRIHTIYANI) Kompas.Com

Senin, 16 Januari 2012

MENABUNG DAN INVESTASI DI PRUDENTIAL

logo_prudentialNasehat orang tua kita yang selalu menganjur untuk menabung sejak dari kecil ternyata memang benar sangat bermanfaat dan terbukti bisa membuat kita berhasil meraih cita-cita yang kita inginkan di masa yang akan datang.

Karena itu sangatlah wajar bila kita juga berusaha mendidik anak-anak kita untuk menabung baik di sekolah maupun di rumah atau di bank, untuk kepentingan mereka juga di hari depan, terutama dalam memenuhi biaya pendidikan dan kesehatan yang tidak akan pernah tau seberapa besar biaya harus di keluarkan.

Saat ini fasilitas untuk menabung sangat banyak macam dan ragamnya. Tidak jarang juga memberikan manfaat plus kepada para nasabahnya yang telah menabung baik di bank atau di lembaga resmi lainnya.

Menabung adalah suatu tindakan yang sangat positif yang perlu terus kita pelihara khususnya kepada anak-anak kita. Tidak hanya itu, kita sebagai orang tua pun sudah selayaknya untuk memiliki tabungan hari tua paling tidak kita sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kebutuhan keluarga kita dimasa yang akan datang.

Pada umumnya bila kita menabung baik di bank atau lembaga lain, setelah sekian lama menabung dan karena alasan tertentu kita membutuhkan dana tabungan tersebut, maka mau tidak mau uang hasil kita menabung tersebut harus kita keluarkan untuk memenuhi kebutuhan kita saat itu.

Sehingga dengan demikian, maka uang tabungan kita akan menjadi berkurang, bahkan mungkin habis untuk kita pergunakan. Dan untuk merencanakan lagi sesuatu, maka kita harus menabung kembali dari awal.

Prudential sebagai salah satu perusahaan yang berasal dari Inggeris yang bergerak dalam bidang perlindungan jiwa merupakan perusahaan asuransi terbesar saat ini dan menjadi nomer satu sebagai top asuransi jiwa di Indonesia, telah memberikan solusi yang paling pas untuk kita menabung.

Sebagai contoh, saat ini anda menabung untuk keperluan anda setiap bulannya adalah sebesar Rp. 300.000,-. Maka dalam waktu 10 tahun kedepan uang anda seharusnya sudah menjadi Rp. 36.000.000,-

Tapi karena di tengah perjalanan anda secara tiba-tiba membutuhkan dana tabungan anda untuk keperluan keluarga anda, maka mau tidak mau anda harus mengambil uang tabungan anda, sehingga akibatnya uang tabungan anda jadi berkurang kembali.

Nah, bila anda menabung di Prudential, hal ini tidak akan terjadi. Mari kita anggap saja anda menabung sebesar Rp. 500.000 setiap bulan maka dalam waktu 10 tahun kedepan uang anda sudah menjadi Rp. 60.000.000,-

Tetapi karena di tengah perjalanan anda menabung, secara tiba-tiba anda membutuhkan dana untuk keperluan anda, karena anak anda sakit sehingga harus di rawat di Rumah Sakit dalam beberapa hari, maka nilai uang anda tidak akan berkurang sedikitpun, karena biaya keperluan berobat anda telah di tanggulangi seluruhnya oleh Prudential.

Tidak cukup sampai disitu saja, bila ternyata di tengah perjalanan menabung anda, ternyata anda mengalami musibah sehingga akhirnya anda tidak dapat menabung kembali untuk sisa waktu hingga 10 tahun kedepan, maka sisa waktu menabung anda juga akan di tanggulangi sepenuhnya oleh Prudential, dan uang tabungan anda akan tetap utuh setelah 10 tahun.

Singkatnya, bila kita menabung di Prudential, selain anda menabung, anda mempunyai manfaat perlindungan jiwa untuk anda dan keluarga anda, dan seluruh uang tabungan anda tidak akan berkurang sedikit pun.

Perlindungan jiwa atau asuransi jiwa sebetulnya banyak sekali manfaatnya, tidak hanya untuk kita tapi juga untuk orang-orang terdekat kita.

Seperti yang dialami oleh saudara mang yang baru saja meninggal karena sakit. Sedangkan beliau memiliki anak 3 orang, yang paling besar sebentar lagi akan di wisuda, yang kedua baru masih kuliah dan yang paling kecil masih setingkat smp. Semuanya sedang dalam masa pertumbuhan yang membutuhkan dana cukup besar untuk melanjutkan sekolah mereka, juga untuk kelangsungan hidup keluarganya.

Bila sang ayah yang telah meninggal tersebut mengikuti program tabungan di Prudential sebelumnya, tentunya dalam waktu dekat akan klaim dana asuransinya. Dana inilah yang nantinya bisa dipergunakan untuk melanjutkan sekolah dan untuk biaya keseharian keluarganya.

Tidak hanya itu, bila sang ayah ini menabung sebelumnya di Prudential dan baru memasuki tahun ke 2 dalam rentan waktu 10 tahun, maka sisa waktu yang 8 tahun untuk menabung ini, sepenuhnya menjadi tanggungan dari Prudential.

Sehingga dalam 10 tahun kedepan, maka keluarga tersebut akan mendapatkan uang tabungannya yang selama ini di simpan di Prudential.

Kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi setelah ini, hari ini, besok atau minggu nanti, karena semua itu adalah rahasia Allah SWT. Tapi kita sebagai manusia adalah wajib hukumnya untuk merencanakan masa depan kita dan keluarga kita, sehingga bila terjadi sesuatu terhadap diri kita, kita tidak akan menyulitkan anggota keluarga kita.

Jadi, dengan kita menabung di Prudential, maka masa depan kita dan keluarga kita terjamin dari kesulitan dan kesusahan yang tidak akan pernah tau seperti apa. Karena itu menabung sejak hari ini hanya di Prudential adalah pilihan yang sangat tepat untuk saat ini.

Mengapa harus pilih Prudential?

  • Perusahaan Asuransi terbaik 2007 dalam kategori aset di atas Rp. 5 triliun dari majalah investor
  • Perusahaan asuransi terbaik tahun 2008 dari majalah Bisnis Indonesia
  • Perusahaan asuransi terbaik tahun edisi Februari 2009 dari majalah Investor
  • Nilai Sangat baik dalam kategori perusahaan asuransi jiwa dengan premi bruto di atas Rp. 1 triliun ari majalah Infobank
  • Call Centre terbaik kategori asuransi jiwa dari majalah Marketing
  • Rekor MURI dalam kategori pemrakarsa dan penyelenggara perjalanan insentif korporasi ke Eropa dengan peserta terbanyak 1.100 peserta secara serentak
  • Memiliki 6 kantor pemasaran di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar dan Medan dan 110 kantor keagenan
  • Didukung oleh lebih dari 40.000 jaringan tenaga pemasaran di seluruh Indonesia
  • Melayani lebih dari 350.000 nasabah
  • Mengelola dana lebih dari US$40 miliar atau sekitar Rp. 167.8 triliun

Nah, dari berbagai fakta yang disebutkan diatas, walaupun baru sebagian, ini bisa membuat kita merasa yakin bahwa Prudential memang adalah perusahaan asuransi yang terbaik saat ini, sehingga wajarlah bila kita memilih Prudential sebagai proteksi perlindungan jiwa kita di masa yang akan datang.

Jadi bila anda berinvestasi sekarang dan bisa menyisihkan dana keperluan anda sebesar Rp. 500.000 setiap bulan, dan mulai menabung di Prudential, maka anda akan mendapatkan manfaat ganda yang bisa anda pergunakan kapanpun bila diperlukan.

Sejujurnya, saya tidak mengharapkan anda mendapat musibah bahkan kecelakaan yang berakibat jiwa anda melayang. Tetapi dengan anda mempersiapkan segala sesuatunya sejak hari ini dan memilih Prudential sebagai sarana proteksi anda, maka masa depan anda akan lebih terjamin dan anda dapat dengan tenang menuju hari tua anda tanpa harus merepotkan orang lain.

Tentunya anda tidak ingin saat anda meninggal nanti, ternyata isteri dan anak anda hidup kesusahan akibat kekurangan biaya untuk kehidupan mereka. Atau anda tidak ingin saat anda sakit, sehingga isteri anda harus mencari tambahan biaya berobat anda mencari pinjaman yang pada akhirnya akan menjadi beban keluarga anda di masa depan.

Adalah tidak salah bila kita merencanakan hidup keluarga kita sejak hari ini, sehingga anak-anak kita bisa hidup lebih layak dan meraih cita-cita yang mereka inginkan, dan kita sebagai orang tua merasa bangga telah membesarkan mereka semua.

Bagi anda dan rekan-rekan yang merasa tertarik untuk menabung di Prudential, maka silahkan kirimkan fotocopy KTP (masih berlaku) dan kirimkan ke email pribadi saya (alexgeografer_98@yahoo.com), nanti setelah itu akan saya buatkan proposal untuk anda pelajari dan bila anda telah setuju maka saya akan segera memproses asuransi anda dalam waktu secepatnya.

all_region_20080317

Jumat, 13 Januari 2012

Tanpa Asuransi, Harga Obat Tak Bisa Dikendalikan


Jakarta, Kompas - Selama harga obat dilepas ke pasar bebas, harga obat sulit dikendalikan. Demikian pula kolusi dokter-farmasi. Tidak akan ada efek pengaturan harga obat terhadap keterjangkauan masyarakat terhadap obat, kecuali lewat asuransi kesehatan sosial yang mencakup seluruh penduduk.

Hal tersebut dikatakan Guru Besar Ekonomi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany, Selasa (22/2) di Jakarta. Menurut dia, akibat kesenjangan pengetahuan kedokteran, masyarakat tidak memiliki kendali untuk menentukan obat yang digunakan sehingga tergantung dari dokter yang memilihkan.

Untuk itu, perlu ada badan yang bertindak untuk kepentingan masyarakat dalam menekan harga obat. Di negara-negara maju, perangkatnya adalah asuransi kesehatan sosial. Perusahaan farmasi bisa menurunkan harga obat karena ada pasar yang pasti (asuransi) dan tidak perlu mengeluarkan biaya promosi obat ethical (obat yang hanya bisa digunakan dengan resep) kepada para dokter.

Adapun negara Asia yang menerapkan asuransi kesehatan sosial antara lain Filipina, Vietnam, Taiwan, dan Korea Selatan.

Menurut Hasbullah, implementasi asuransi kesehatan sosial yang diamanatkan Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) terhambat karena pemerintah tidak punya niat untuk menjalankan. Pembahasan RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang menjadi syarat pelaksanaan asuransi kesehatan sosial di DPR kini mandek. ”Alasan Menkeu, pemerintah tidak siap untuk membahas RUU tersebut,” kata Hasbullah.

Pemerintah berkeras, agar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang akan menjadi BPJS, yakni PT Jamsostek (Persero) dan PT Askes (Persero), berubah menjadi perum. Padahal, UU SJSN mengamanatkan BPJS adalah badan hukum khusus yang bersifat nirlaba, di mana tidak ada laba, melainkan surplus yang bukan menjadi obyek pajak. Contoh badan hukum khusus adalah BI.

”Dengan menjadi perum, kedua badan itu tetap tunduk pada UU BUMN dan bertentangan dengan UU SJSN. Walau tidak lagi menyetor keuntungan kepada pemerintah, tetapi tetap terkena pajak. Misalnya, ada pendapatan Rp 2 triliun setidaknya akan kena pajak Rp 600 miliar. Dana itu seharusnya bisa digunakan untuk kepentingan peserta asuransi,” kata Hasbullah.

Jika menjadi badan hukum khusus, kontrol tidak lagi di bawah pemerintah, melainkan di DPR. Direksi juga harus diangkat lewat fit and proper test oleh DPR.

Menteri BUMN Mustafa Abubakar di sela-sela rapat kerja kabinet di Bogor, Jawa Barat, menyatakan, pemerintah menilai, tidak perlu mengubah status PT Jamsostek (Persero), PT Askes (Persero), PT Taspen (Persero), dan PT Asabri (Persero) untuk menjalankan program jaminan sosial. Keempat BUMN tersebut dinilai sudah memenuhi syarat menjadi BPJS karena tidak lagi menyetor dividen ke pemerintah. Jadi tinggal memperluas layanan.

Di sisi lain, ternyata Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) belum melindungi seluruh penduduk miskin. Sejumlah jenis obat tidak masuk dalam daftar obat yang ditanggung. Akibatnya, pasien dengan penyakit tertentu rentan terkena dampak mahalnya harga obat.

Hal tersebut dituturkan oleh Ketua Forum Pers RS dr Soetomo Surabaya, Urip Murtedjo. Obat yang tidak ditanggung Jamkesmas biasanya obat penyakit berat, seperti obat pascaoperasi jantung.

Mendesak dibentuk

Peneliti pelayanan publik dari Indonesia Corruption Watch (ICW), Febri Hendri, menyatakan, pemerintah perlu segera mengimplementasikan sistem jaminan sosial. RUU BPJS perlu segera diundangkan. Hal tersebut dipandang sebagai solusi untuk menjamin setiap warga negara mengakses layanan kesehatan.

Survei yang dilakukan ICW pada 986 pasien miskin pemegang kartu Jamkesmas, Jamkesda, keluarga miskin, dan surat keterangan tidak mampu di 19 rumah sakit pemerintah dan swasta di Jabodetabek sepanjang 13 Oktober-13 November 2010 menunjukkan,

47,3 persen responden mengeluhkan pelayanan tim medis (dokter dan perawat), uang muka, penolakan pelayanan kesehatan, dan fasilitas. Kadang-kadang pasien ditolak dengan alasan tempat tidur penuh, tidak memiliki peralatan, dokter, atau obat yang memadai.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menyatakan, pemerintah kesulitan menerapkan asuransi kesehatan sosial secara nasional. Alasannya, ada beragam standar atau sistem asuransi kesehatan yang ada, misalnya ada Askes, Jamsostek, dan Jamkesmas.

Pemerintah sedang menyamakan benefit packages (aspek yang dicakup asuransi) dan tata cara klaim dari pelbagai asuransi tersebut.